Telegram, Proxy War sampai Cyber Troops

Telegram, ditutup alias diblokir menjadi popularitas tersendiri bagi Indonesia khususnya Kemenkominfo dan juga Telegram. Dialog by email kedua kelembagaan G to C itu disimak banyak orang. Isu terorisme dalam laman Telegram versi website yang dikritisi Indonesia sudah barang tentu diacungi jempol banyak pihak. No to terorism.Terorisme sebagai faham dan panutan mempunyai pendukungnya tersendiri yang para cyber troopsnya siap masuk kapan saja dan di mana saja …

Dan Bahasa Indonesia seperti kehabisan kata-kata ketika marak orang dan para petinggi begitu royal mengutarakan Cyber Troops dan Proxy War. Cyber troops dianggap sebagai bagian paling penting dalam menghadapi dunia masa kini. Cyber troops alias pasukan dunia maya, pasukan cyber. Pasukan cyber ini pada gilirannya menghidupkan suasana yang disebut proxy war dan atau cyber warfare.

Sebuah artikel di detiknas menyebut kemudahan dalam membuat akun di media sosial membuat banyak bermunculan akun anonim yang sengaja dibuat dengan menyamarkan data dan indentitas asli serta akun psuedonim dimana sengaja membuat data yang bertentangan dengan identitas asli, tujuannya adalah untuk menyisipkan opini-opini berbeda pada sebuah media sosial.

Selain itu, para pemilik akun anonim dan psuedonim atau biasa disebut akun kloningan sengaja memberikan opini yang bertentangan untuk meramaikan opini publik dengan komentar negatif untuk menjatuhkan pihak-pihak tertentu. Namun, tidak dipungkiri bahwa beberapa akun anonim pun juga bisa memberikan opini positif yang bertujuan untuk membangun kepercayaan masyarakat tentang hal yang mungkin disalahartikan dalam lingkungan publik.

Maraknya penggunaan media sosial ini memunculkan sebuah strategi yang dianggap efektif untuk menggiring opini masyarakat di dunia maya. Strategi tersebut mengerahkan pasukan di dunia maya yang disebut dengan Cyber Troops atau Pasukan Siber. Menelisik tentang Cyber Troops seperti halnya melihat dua siis mata uang, dimana sebagian dari mereka memberikan sebuah isu yang belum jelas keberadaannya atau hoax untuk membuat sebuah kekacauan, sehingga menimbulkan pro dan kontra dan sebagian dari Pasukan siber lainnya juga bisa memberikan opini membangun untuk memprovokasi masyarakat guna menguntungkan pihak tertentu dengan tujuan tertentu.

Bagi masyarakat pengguna aktif media sosial dihimbau untuk bisa mengantisipasi adanya Cyber Troops yang memberikan informasi bernuansa adu domba. Jangan sampai terporvokasi dengan ramainya opini pada suatu postingan tertentu di dunia maya yang bisa menimbulkan pertentangan, namun belum pasti keakuratan informasinya.